Menelusuri Jalan Samarinda – Balikpapan

Catatan Mudik 2008 (1)

 

Kalo dulu untuk mudik ke Jawa tinggal naik ojek 15 menit dari kost ke Bandara Sepinggan (setelah itu naik pesawat tentunya), namun kini semenjak mutasi ke Samarinda waktu perjalanan bertambah menjadi sekitar 2 jam lebih. Lumayan jauh memang, tapi bagi saya yang masih muda dan yang kebetulan menyukai travelling, hal tersebut bukanlah masalah.

 

Sebelum berangkat ke Balikpapan, saya sempatkan dulu mampir ke bengkel untuk mengganti ban belakang motor saya yang sudah mulai gundul. Tak hanya ban luar, ban dalam pun saya ganti sekalian dengan yang baru, biar mantap. Oli dan kanvas rem pun tak luput dari perhatian, semuanya diganti dengan yang baru. Jika sudah demikian, maka untuk berkendara dengan kecepatan tinggi pun rasanya aman, nyaman, dan percaya diri.

 

Dari dulu, saya sangat menikmati perjalanan mengendarai motor. Dan sebaliknya, paling males kalo naik bis, atau setidaknya bis adalah alternatif terakhir. Dengan mengendarai motor, saya bisa merasakan semilir angin, udara segar, kebebasan, dan yang pasti ngga bakalan mabuk (mabuk ngga, masuk angin iya…)

 

Naasnya tentu saja kalo lagi hujan, meski sudah memakai jas hujan, tetap saja ada bagian tubuh yang kebasahan. Pernah dalam suatu perjalanan, badan saya menggigil kedinginan padahal saya sudah memakai jas hujan, berjaket pula. Hujan sangat deras, angin kencang, pandangan jadi kabur karena hujan seperti bercampur kabut, ditambah resiko jalan yang licin. Kalo sudah begitu saya memilih untuk berhenti mencari tempat berteduh, dan melanjutkan perjalanan jika hujan sudah agak reda.

 

(Ketika saya berteduh, saya masih melihat beberapa pengendara motor yang tetap melanjutkan perjalanan dalam derasnya hujan, bahkan dengan kecepatan tinggi. Mereka memang bernyali besar, berani menantang badai. Sedangkan saya, meski bukan penakut, tapi masih bisa mengukur kemampuan diri. Masih banyak impian yang belum terwujud, untuk itu saya harus berhati-hati)

 

Menelusuri jalan Samarinda – Balikpapan, tidak banyak hal yang bisa dilihat. Yang ada hanyalah jalan berliku, perkampungan penduduk, beberapa warung makan tempat istirahat (kini semakin marak dengan hadirnya rumah makan Tahu Sumedang yang selalu ramai tiap kali saya melewatinya), melintasi beberapa objek wisata (wana wisata & agro wisata) yang begitu-begitu saja, dan selebihnya adalah…..hutan.

 

Setiap kali memasuki jalanan mulus di Kota Balikpapan (meski ada juga beberapa yang rusak akibat banjir), saya mau tidak mau pasti membandingkan dengan kondisi jalanan di Kota Samarinda. Jalanan di Samarinda banyak yang rusak, kotanya pun terkesan kumuh, padahal melihat topografi Samarinda yang relatif datar, seharusnya Samarinda bisa menjadi kota yang lebih rapi daripada Balikpapan yang berbukit-bukit itu (tergantung keseriusan Pemkot Samarinda saja).

 

Saya tiba di bandara tepat 1 jam sebelum jadual keberangkatan. Rencananya saya mau check-in dulu, setelah itu baru ke tempat mantan bu kost saya untuk menitipkan motor, trus ke bandara lagi naik ojek. Namun, rencana hanya tinggal rencana karena sesampainya di check in counter, saya mendapati antrian terpanjang yang pernah saya jumpai (maklum masanya mudik). Ditambah lagi para calon penumpang yang membawa banyak bagasi makin menambah lama waktu antrian.

 

Kalo sudah begitu, perhitungan awal saya menjadi tidak tepat. Saya tidak punya waktu lagi untuk menitipkan motor. Saya pun memutar otak mencari akal bagaimana mengamankan ‘Si Risma’ motor kesayanganku yang akan saya tinggalkan selama 8 hari.

 

Saya hubungi beberapa teman yang kemungkinan bisa saya titipi, namun tak ada jawaban (saya tidak ingat kalo waktu itu masih waktunya tarawih). Saya pun sempat panik. Untung akhirnya malaikat penolong datang menghampiri saya, seorang teman yang tinggal di komplek Markoni menjawab panggilan saya dan bersedia membantu. Berboncengan bersama seorang kawan baik, mereka mengambil motor saya di bandara dan menempatkan ‘Si Risma’ di tempat yang aman (makasih buat Mas Bayu dan Mas Dian Jatmiko.)

 

Setelah semuanya beres, saya pun naik ke pesawat dengan perasaan lega….

Halo Surabaya, I’m coming…..!!

 

 (Tepian City, 08-10-2008)

Komentar bertahan »